Membunuh Hasud dengan Mendoakan

by - Januari 03, 2020

Tulisan ini terinspirasi ketika saya mengatur anak-anak agar tertib. Tetapi nyatanya sebagian mereka tidak mau tertib. Jika terlalu dihayati, maka dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dalam diri. Merasa tidak didengarkan, merasa tidak dipatuhi, intinya ada ketersinggungan perasaan. Ini adalah hal biasa yang terjadi dalam hal sosial.

Hubungan orang dengan orang yang dikenal, memang sesekali perlu menjaga jarak. Ingat, menjaga jarak bukan berarti menjauh. Tetapi menciptakan intensitas yang pas sehingga meminimalisir gesekan. Selain hal tersebut, menjaga jarak adalah upaya untuk menjaga hati juga. Terkadang orang ketika bertemu dengan sesamanya, potensi hasud/ tidak suka itu muncul. Ketika melihat teman yang sudah menikah duluan, ada rasa tersinggung. Berjumpa dengan yang yang lebih bagus dalam ekonomi, pendidikan, karir, ada rasa tersinggung. Padahal tahu bahwa rasa hasud/ tidak suka, menginginkan sesuatu yang sama yang menjadi milik orang lain/ tamak, itu tidaklah baik. Tetapi rasa tersebut sering muncul otomatis ketika bertemu dengan orang tertentu. Inilah pentingnya menjaga jarak. Jangan terlalu jauh, tetapi jangan pula terlalu dekat. Terlalu jauh akan dikucilkan, terlalu dekat akan diremehkan.

Maka yang paling aman adalah memiliki qolbun salim. Hati yang selamat. Setiap bertemu dengan apapun, ia menyelamatkan. Bertemu dengan teman yang kaya maka hatinya berkata "dia memang pantas kaya, semoga hartanya bermanfaat bagi orang lain, digunakan untuk kebaikan, diberkahi selalu", bertemu dengan anak yang ngeyel hatinya berkata "semoga kelak anak ini menjadi baik, bermanfaat bagi agama, penerus dakwah dimanapun ia berada, sukses dan bermanfaat bagi orang banyak", bertemu dengan orang yang menikah hatinya berkata "semoga mereka rukun, rumah tangganya berkah, menghasilkan manfaat bagi orang lain dari pernikahan ini, tambah bagus ibadahnya", bertemu dengan orang yang punya kendaraan baru maka hatinya berkata "alhamdulillah nikmat yang baru, semoga bermanfaat bagi orang lain, semakin rendah hati, dilindungi dimanapun ia berada, diberikan keselamatan dari marabahaya". Ketemu orang yang dianggap jahat hatinya berkata "semoga semakin baik, semakin sadar, mendapat hidayah, dan memberi manfaat untuk orang lain". Melihat situasi apapun yang tidak cocok hatinya berkata "semoga ini menjadi ladang latihan bagi hati saya, agar semakin luas menampung yang ada, semakin kuat, tatag, dan menjadikan diri saya tidak cemen, dan lebih bijaksana".

Manakala hal tersebut diredaksikan dalam hati, apalagi diucapkan, maka suasana hati menjadi berubah. Lebih nyaman. Sumpek yang sempat hadir menjadi lebih lega. Ketika hal sama terulang kembali, maka diulangi pula dengan kata-kata yang baik tadi. Tips ini juga yang saya dapatkan dari pakde saya. Karena kata yang positif adalah doa. Kata-kata mengubah cara berfikir dan bertindak. Jika diperdalam lagi, maka sesungguhnya apa yang didoakan untuk orang lain akan berbalik untuk diri sendiri juga.

Akhirnya, memiliki rasa cocok terhadap seseorang itu adalah manusiawi. Begitu pula rasa tidak cocok itu juga manusiawi. Perbedaan ini akan selalu ada selagi orang masih hidup. Tetapi jika rasa tidak cocok berubah menjadi hasud, maka ini perlu mendapat perhatian. Karena hasud menjadikan diri sendiri menjadi sumpek, sesak, tidak nyaman, dan ini merugikan. Maka ia dapat disingkirkan dengan mendoakan.

Note: catatan singkat ini 100% untuk diri saya sendiri, bukan untuk menasehati orang lain, ataupun sombong mengajari orang lain. Ini pengalaman kolektif pribadi sejak kemarin masih lajang sampai saat ini. Jika ternyata ada manfaatnya bagi pembaca, maka dipersilakan mengambil manfaatnya. Pernah ada yang tersinggung membaca coretan saya, maka saya minta maaf, kembalikan pada hal awal yaitu coretan ini adalah nasehat untuk penulis sendiri. Terus ngapain di publikasikan? agar sahabat-sahabat bisa mengingatkan manakala saya lupa. Itu saja. Nothing else. 

Note 2: humor juga bisa membunuh hasud secara perlahan :d

Salam,
Agus Tri Yuniawan

You May Also Like

0 komentar