Merdeka Belajar Tanpa Ujian Nasional

by - Desember 27, 2019

Bismillah. Kawan, beberapa waktu kemarin, seorang teman memasang status whatsapp tentang acara TV Mata Najwa yang mengangkat judul "Menguji Ujian Nasional". Hadir dalam acara tersebut Plt. Dirjen Dikdasmen Kemdikbud, Bapak Totok, ketua komisi X DPR RI, Pak Huda, komisioner KPAI, Bu Retno, dan tokoh publik, Sophia Latjuba, anggota komisi X DPR RI, Pak Sudewo, dan peneliti PSPK, Mas Anindito Aditomo.

Sudah menjadi hukum dasar terhadap kebijakan baru, ada yang setuju ada pula yang tidak sepakat. Pertimbangan yang mendasari digantinya UN ini adalah dari dampak yang ditimbulkan. Kondisi dan tantangan global tidak bisa diatasi hanya dengan UN saja. Banyak faktor, pengetahuan, sosial, mental, minat dan bakat, dukungan keluarga, dukungan keuangan, dsb, itu yang mampu menjadikan lulusan memiliki kemampuan bertahan dan berjuang. 

Kemarin saya membuat undangan Posbindu. Materinya tentang sosialisasi tentang rokok dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), tetapi saya menuliskan di undangan tentang kesehatan paru-paru. Hal ini karena saya niteni, biasanya undangan yang memuat kata "rokok" maka sedikit yang datang, karena persepsi masyarakat adalah "pasti disuruh untuk tidak merokok". Oleh karenanya pada pembukaan acara saya sampaikan, biasanya orang yang setuju pelarangan merokok adalah orang yang dia sendiri memang tidak merokok, sedangkan lawannya adalah orang yang sudah biasa merokok, maka ini tidak fair.

Hubungannya dengan penggantian UN ini adalah dampak lulusan dalam menghadapi tantangan masa depan. Saya sependapat dengan hal tersebut. Saya adalah lulusan SMK tahun 2008, yang mana pada waktu itu UN dijadikan penentu kelulusan 100%. Artinya kalau tidak lulus ya mengulang 1 tahun, hasil belajar tiga tahun hanya ditentukan tiga hari pada mata pelajaran yang diujikan. Ini juga tidak fair, meskipun saat ini UN bukan lagi penentu kelulusan, tetapi dampak psikologisnya tetap ada.

Saya merasakan sendiri, disekolah diadakan jam belajar tambahan sampai sore, bahkan pernah menginap untuk shalat tahajud bersama agar lulus UN, puasa senin-kamis, doa bersama. Waktu itu saya lulus dengan nilai UN terbaik di sekolah. Namun setelahnya justru saya bingung mau kerja apa. Nilai mata pelajaran bagus, tetapi aspek lain seperti kemampuan sosial masih minim, minat dan bakat masih samar, dukungan keluarga dan sekolah sebatas doa saja, sedangkan ketika itu kondisi labil, saya memerlukan dukungan konkrit dari luar. 

Seiring berputarnya waktu, hal tersebut semakin terang. Yakni hal yang dibutuhkan seseorang dalam menghadapi tantangan tidak hanya kecerdasan pelajaran yang di UN-kan saja. Secara simpel seperti kata budayawan, Emha Ainun Najib, "pelajari satu hal yang kalian suka, tekuni, dan jadilah ahli di bidang itu." Sejalan disampaikan Mendikbud, temukan satu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Artinya agar bakat tersebut dapat dikelola, dikembangkan, dan sekolah mengawal sampai murid tersebut pede dengan dirinya. Hal itulah yang membuat lulusan mampu bertahan hidup dan bekal mandiri ketika tamat belajar di sekolah.

Oleh karenanya, dikabarkan bahwa pengganti UN adalah Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Lebih jelasnya seperti apa, barangkali sebentar lagi kita akan mengetahuinya. Tetapi esensinya adalah mengakomodasi kebutuhan dasar, bahwa setiap murid memiliki keunggulan masing-masing. Hal inilah yang akan mereka kembangkan untuk bekal masa depan. Nalurinya dapat tersalurkan dengan baik. Ibarat tanaman, mereka mendapat pupuk dan media tanam yang pas untuk menumbuhkembangkan dirinya.

Lagipula menurut saya, ibadah tahajud menjelang UN, puasa senin-kamis, doa bersama agar lulus UN, adalah tindakan yang setengah egois. Karena ternyata setelah keinginan diri sendiri tercapai, artinya lulus, semua itu akan ditinggalkan. Saya sendiri contohnya. Sedangkan bagi yang tidak lulus, maka ibadah-ibadah tersebut justru menjadi tersangka, "sudah dibela-belain tahajud, puasa, doa, tidak lulus juga", akhirnya kecewa. 

Jadi, tulisan ini juntrungannya kemana? Agar semakin sadar saja, bahwa setiap murid memiliki keunggulan masing-masing, itulah yang perlu dikembangkan agar mereka percaya diri, lebih siap, dan mampu bertahan serta berkembang membaur membawa diri dengan dunia. Daya juang otomatis akan mereka keluarkan manakala menghadapi suatu persoalan, sedangkan persoalan setiap orang tidaklah sama. Mereka belajar dengan Merdeka. Harapannya, mereka juga menjadi orang yang merdeka pula. Orang yang merdeka menurut BRM Kudiarmadji adalah orang yang benar-benar sadar dan paham akan kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri, sehingga mereka mampu membawa dirinya dimanapun berada, dengan paham dan sadar tersebut ia akan jauh dari rasa takut dan khawatir.

Soal standarisasi dan alat ukur, ada rapor, ada ujian sekolah, ada ujian praktek, bahkan disamping itu juga ada track record, jejak digital, itu semua bisa dijadikan alat ukur, bahan menilai. Bukankah dengan melihat status wa saja kita bisa menilai seseorang?


Salam,
Agus Tri Yuniawan

Tulisan ini dimuat juga di Rasan.ID pada Jumat, 27/12/2019, dengan judul yang sama.

You May Also Like

0 komentar