Belajar dari Lensa Mikroskop

by - Desember 19, 2019

Bismillah. Ketika SMP dulu, saya belajar menggunakan mikroskop. Masih ingat sekali, waktu itu pelajaran Biologi yang diajarkan oleh Ibu Heny, guru kami. Kami menyiapkan kaca preparat, pipet, dan obyek yang akan diamati. Waktu itu kami mengamati paramaecium dari air sawah, stomata pada daun, rambut, dan sel epidermis bawang merah. Yang menarik sekaligus yang menjadi ide dari tulisan ini adalah tentang penggunaan lensa mikroskop. Sebagaimana yang saya pelajari, mikroskop memiliki beberapa bagian seperti lensa obyektif, lensa okuler, tabung, pemutar fokus kasar, pemutar fokus halus, dll. Lensa pun memiliki beberapa kemampuan pembesaran seperti 5x, 10x, 45x, dll.

Ketika sedang mengamati obyek, saya memilih lensa untuk pembesaran yang dikehendaki. Selanjutnya saya perlu memutar tuas pemutar fokus untuk mendapatkan gambar sejelas-jelasnya. Cara kerja pemutar fokus ini adalah dengan mengatur jarak lensa dengan obyek sehingga diperoleh gambar yang paling jelas.

Pelajaran yang saya ambil dari alat ini adalah tentang cara memandang sesama, saya ambil permisalan sebut saja si A. Si A diibaratkan obyek yang diamati dengan mikroskop. Ada orang yang mengamatinya sebagai sesuatu yang selalu jelek, ada yang mengamati bahwa ia baik, ada yang mengamati pula ia biasa saja. Mereka melaporkan hal itu pada saya. Lalu laporan manakah yang saya percayai?

Setelah melihat sejenak, ternyata orang yang selalu menyampaikan jelek tadi adalah orang yang memang sejak awal tidak cocok dengan si A, yang menyampaikan baik tadi adalah orang yang dekat hubungan dengan si A, sedangkan orang ketiga yang melaporkan adalah orang awam yang tidak terlalu akrab dan tidak punya hubungan apa-apa. 

Pembelajarannya adalah sebagaimana mikroskop. Saya perlu memutar tuas fokus untuk mendapatkan titik yang pas. Jarak yang pas antara lensa dengan benda menyebabkan gambaran yang diperoleh menjadi jelas. Maka terkadang saya memang perlu menjaga jarak dengan si A agar dapat memandang dengan netral dan sudut pandang yang pas. Jika terlalu dekat maka malah blur, bahkan gelap. Jika terlalu jauh, maka tentu saja banyak bias dan tidak terlihat dengan jelas. Menjaga jarak bukan berarti menjauh. Menjaga jarak artinya menempatkan diri agar kita mendapatkan suasana yang paling nyaman untuk melihat keadaan. 

Ketika jarak yang dibuat sudah pas, saya juga perlu memberi waktu bagi mata untuk melihat. Ternyata kulihat lebih detail bagian-bagian yang memang indah. Selain itu pula terlihat juga bagian-bagian yang kurang indah. Setiap orang yang memiliki kekurangan, maka sesungguhnya kekurangan tersebut memiliki alasan, dan setiap kekurangan ada juga kelebihan-kelebihan juga yang ia miliki. Dengan demikian, kita memandang sesama secara proporsional, tidak mudah menghukumi kekurangan orang lain, karena tentu saja dalam pandangan orang lain kita juga punya kekurangan yang pastinya jauh lebih banyak daripada yang mereka saksikan.

Renungan belum selesai. Saya lihat lagi lebih jauh, ketika saya memandang indah ataupun jelek ternyata tidaklah seperti yang saya lihat. Ada tipuan disana. Contohnya ketika kemaren saya mau bayar-bayar online ke Alfamart. Ada empat item yang hendak saya bayar. Setiap pembayaran sudah saya siapkan kode yang nantinya akan diinput oleh kasir. Ada tiga orang yang sedang membayar belanja di depan saya. Saya antri. Setiba giliran saya, kasir yang melayani saya diberi tahu oleh sesama teman kasir, "udah, layani satu transaksi aja dulu, suruh pending nunggu, antrian dibelakangnya banyak, kasihan".

Akhirnya saya cuma bisa menyelesaikan satu item. Saya sempet mau dongkol nih, udah dibela-belain antri malah disuruh pending, jelek banget ini pelayanan, mana dari dulu kulihat di kasir dipajang aneka kondom lagi, apa sih alasannya. Tiba-tiba rasa itu buyar manakala saya lihat di kasir ada dua stiker donasi. Satu dari NU Care, satu lagi dari LazisMu. Ternyata toko ini turut beramal untuk sosial melalui ormas yang saya kenal. Saya pun merasa netral, dan memberikan kesempatan pada orang lain yang hendak bayar kasir selanjutnya.

Dari hal tersebut saya mengambil kesimpulan. Ternyata saya memandang jelek atau baik itupun masih tercampuri oleh kepentingan-kepentingan. Manakala sesuatu memberi kontribusi terhadap saya, maka saya cenderung melihatnya baik. Jika tidak memberi kontribusi, maka jika ada kesalahan pasti terlihat salahnya. Ada anak muda, ngebut dijalan kampung. Saya menjadi jengkel, "jatuh baru tahu rasa kamu", kata saya. Namun beberapa saat rasa jengkel itu hilang. Kata yang baru saja terucap saya ganti, "Ya Allah, kasih dia keselamatan, dan beri kesadaran supaya dia tidak ngebut lagi dijalan". Kenapa? Karena ternyata anak muda yang ngebut tadi adalah adik saya.

Semoga saya, njenengan, dan kita semua diberikan keselamatan dalam melihat sesuatu. Jika pandangan belum jelas, maka menjaga jarak itu perlu. Dengan demikian, kita semua lebih jelas dan luas melihat keadaan. Akhirnya hati kita tidak sumpek, karena ditipu pemandangan yang blur, bruwet, gelap, dan serba tidak indah.

Salam,
Agus Tri Yuniawan

Sumber gambar: amazon[dot]com

You May Also Like

0 komentar