Catatan Latsar: Hari Keenambelas

by - Juli 17, 2019

Rabu, 17 Juli 2019. Kami mengawali hari dengan jogging yang dipandu oleh Bapak Wandi. Kami berkeliling menuju titik awal yaitu Villa Gardenia, menuju barat ke sisi lain Gunung Sempu. Menyusuri rumah penduduk, kami mendengar kokok ayam, kambing yang mengembik, dan embun tipis yang menyapa kulit.

Sesudah apel, pukul 08.00 WIB kami masuk ke kelas untuk belajar Whole of Goverment (WoG). Bersama Bapak Thantowi Jauhari kami belajar tentang ilmu pemerintahan. Inti dari WoG adalah kolaborasi antar stakeholder dalam menemukan titik temu untuk mencapai tujuan nasional. Maka sebisa mungkin dihindari ego sektoral, karena hal tersebut dapat menghambat proses koordinasi. Jika koordinasi terhambat maka .... ? Yup, pencapaian tujuan nasional jadi terhambat.

Negara kita adalah negara hukum sehingga semua aspek diatur oleh pemerintah. Namun kita semua tahu, bahwa membuat kebijakan itu tidaklah mudah. Sulit juga mewujudkan pemuasan semua pihak. Oleh karena itu dilakukan WoG, agar ada kolaborasi. Oleh karena itu dengan adanya WoG ini kita diharapkan tidak memiliki fikiran yang sempit. Melalui WoG ini kita memahami pentingnya kebersamaan pada semua sektor untuk mendoronguntuk tercapainya tujuan nasional.

Sesi selanjutnya kami belajar tentang best practice penerapan WoG di negara lain. Kami membentuk delapan kelompok. Ada yang menilik best practice sistem pendidikan negara Finlandia, ada yang menampilkan best practice tentang sistem transportasi negara Jepang, ada yang mengupas tentang sistem kependudukan di Korea juga. 

Alhamdulillah, sesi satu selesai. Setelah ishoma kami melanjutkan kegiatan belajar bersama Bapak Ambar. Kali ini kami belajar tentang pelayanan publik. Tujuan dari kegiatan ini adalah membekali peserta dengan kemampuan untuk memberikan pelayanan publik yang berkualitas melalui konsep dan prinsip pelayanan publik, pola pikir PNS sebagai pelayan publik, dan praktik etiket pelayanan publik. 

Esensi dari sesi pelayanan publik ini adalah agar ASN memiliki mind set sebagai pelayan publik. ASN melayani sesuai SOP dan standar pelayanan minimal. Dengan demikian diharapkan publik, siapapun yang dilayani, menjadi puas atas pelayanannya. Ini cocok dengan pembelajaran sebelumnya dengan ibu Febriani, mindset ASN yang dulu zaman kolonial sebagai penguasa, maka diluruskan bahwa ASN adalah pelayan, yang melayani dengan profesional.

Oh ya, nanti penulis akan posting bahan belajar bentuk PPT yang dibagi oleh pengajar. Alhamdulillah.

----bersambung----

Salam,
Agus Tri Yuniawan


Foto Dokumentasi: Hapsari

You May Also Like

0 komentar