Catatan Latsar: Hari Keempatbelas

by - Juli 16, 2019

Senin, 15 Juli 2019. Pagi cerah, aroma embun masih kental terasa. Mengawali hari ini kami melaksanakan senam aerobik bersama Bapak Nur Amri. Alunan musik menghentak, semangat, giat, membuat tubuh kami bergerak riang. Keringat bercucuran membasahi kaos training kami. Setelah selesai, kami bersama mas Nanang mengembalikan speaker. Selanjutnya kami santap pagi dan persiapan apel.

Kegiatan apel kali ini ada yang berbeda, yaitu dengan datangnya rekan angkatan 9 setelah sebulan habituasi. Kami pun menyampaikan yel-yel selamat datang dengan dipimpin ketua kelas. Selain itu, kami menyampaikan pula yel-yel perpisahan untuk kelompok 7 dan 8 yang telah menempuh 2,5 bulan latsar. Alhamdulillah hari ini mereka dinyatakan lulus dan siap kembali ke instansi masing-masing. Apel selesai, kami menggendong tas dan melangkahkan kaki  menuju ruang kelas. Hari ini kegiatan belajar kami adalah bab komitmen mutu ASN dan nilai-nilai anti korupsi.

Setengah hari pertama kegiatan belajar kami dipandu oleh Pak Sopingi. Hari ini kami presentasi dengan menampilkan berbagai macam kegiatan pelayanan yang ada di berbagai instansi disekitar kita. Ada yang mengangkat tema tentang pelayanan di perpustakaan sekolah, di rumah sakit, di KUA dan sebagainya. Inti dari kegiatan ini adalah kami mengetahui tentang bentuk pelayanan beserta sikap yang perlu dibangun. Bapak Sopingi juga menyadarkan kami untuk memperhatikan hal-hal kecil yang ada pada setiap lini pada bidang yang kita jalankan. Tujuannya adalah agar kami memiliki kebijaksanaan dalam melaksanakan tugas. Beliau menyampaikan pula bahwa komitmen adalah ukuran yang berupa janji mengikat yang telah dibakukan sebagai acuan pelayanan yang baik, sedangkan mutu adalah sesuatu yang memuaskan atau bahkan melebihi dari yang diharapkan oleh penerima layanan.

Sebagai seorang pendidik, maka kegiatan pembelajaran adalah membangun komitmen mutu. Komitmen ini berarti bahwa seorang pendidik mampu melaksanakan kegiatan pelayanan terhadap peserta didik dengan sebaik-baiknya. Hasil akhir dari komitmen ini adalah tercapainya kepuasan baik pada peserta didik maupun orangtua peserta didik. Maka dari berbagai studi kasus yang dipresentasikan oleh rekan-rekan kami, komitmen mutu berkaitan dengan sarpras dan jasa.

Hal menarik yang kami ingat yang disampaikan oleh Pak Sopingi sampai saat ini adalah satu teladan lebih baik dari seribu nasihat. Beliau juga sering mengingatkan shalat dhuha ketika jam istirahat pertama. Terakhir beliau mengajak, bahwa sebagai pendidik agar senantiasa merangkul setiap peserta didik dalam proses pembelajaran. Jika peserta didik merasa disayangi, diperhatikan, maka akan mempermudah pencapaian tujuan pendidikan.

Pembelajaran berikutnya adalah bab Anti korupsi. Kali ini kami belajar bersama Ibu Yulia Rustiyaningsih. Beliau mengawali kegiatan dengan memutarkan sebuah filem pendek. Setelah itu, kami berdiskusi tentang realita keadaan negera kita tercinta. Pada kegiatan awal ini, kami mendapatkan pengetahuan bahwa ada tujuh hal yang termasuk tindak pidana korupsi (tipikor), yaitu: penyalahgunaan wewenang yang menyebabkan kerugian uang negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan (conflict of interest) dalam pengadaan, dan gratifikasi.

Masih adanya tindakan pidana korupsi di negeri ini bermacam-macam. Contohnya adalah proses yang dilalui oleh calon pejabat. Jika untuk menjadi pejabat saja masih membutuhkan modal yang besar, maka reformasi birokrasi nampaknya masih sulit dilakukan. Padahal sampai bab ini kami pelajari di kelas, Presiden RI masih terus menggencarkan reformasi birokrasi. Maka sebagai ASN, kami perlu terus melakukan hal preventif dan perlawanan korupsi. Hal ini karena jika seorang pejabat masih memikirkan cara untuk memperkaya diri, maka ia tidak memiliki kejernihan dalam berfikir. 

Selanjutnya pada sesi ini kami juga memahami bahwa biaya sosial dari korupsi ini sangat besar. Maka sesungguhnya jika seseorang dinyatakan bersalah atas tindak pidana korupsinya, maka ia tidak hanya merugikan uang negara sejumlah yang disebutkan tetapi juga nominal-nominal lain yang nilainya lebih besar. Terakhir pembelajaran ini adalah penyadaran kepada kami, peserta latsar, untuk senantiasa berhati-hati. Alhamdulillah.


---- bersambung ----
Salam,
Agus Tri Yuniawan
 
Foto Dokumentasi: Pak Pandita

You May Also Like

0 komentar