Meraih Status ASN Adalah Prestasi?

by - Maret 29, 2019

Seiring bertambahnya usia, banyak orang yang lebih mementingkan esensi daripada sensasi. Ketika dulu muda dan remaja, suka dan bangga dengan Ninja, kini ketika lebih berumur bahkan Legenda atau Vespa saja sudah cukup baginya. Ketika dulu suka dengan pizza, burger, dan chicken pasta, ia pun bahagia meng-capture dan memposting di sosial media, tetapi kini cukup dengan sego liwet, sayur asem, lalapan, dan buah yang ada, yang penting sehat dan berguna. Ketika dulu pula, bangga dengan gebyar dekorasi, wedding organizer, fotografer kelas elite, perburuan spot indah untuk foto pre-wedding, tetapi kini ketika kulit mulai keriput, rambut mulai berkurang hitamnya, dan lebih dalam dalam perenungan, ternyata keluarga yang hangat, akrab, sehat, dan bersahaja, itu jauh lebih ia butuhkan daripada sekedar foto-foto kemesraan yang di share, like, and tag dalam dunia maya. 

Aparatur Sipil Negara (ASN) atau yang biasa dikenal orang sebagai PNS adalah profesi yang memiliki prestis bagi kebanyakan mereka. Hal tersebut pula mengangkat status sosial dalam masyarakat, terutama masyarakat di kampung dan desa. Meski memang, perjuangan untuk mendapatkan status ASN tidaklah mudah. Perjuangan belajar, mengabdi di instansi sekian waktu, menjalani beberapa test, sampai dengan ujian kesabaran ketika menunggu hasil pun dijalaninya. Dan yang paling pokok tentunya adalah takdir Allah Subhanahu Wa ta'ala. Dengan demikian, ketika berhasil mendapatkannya, biasanya rasa syukur yang tak terkira terpancar dari mereka.

Ya, kini status ASN pun didapatkannya. Namun, apakah ini prestasi final? Tentu saja tidak. Maka, sebagaimana ilustrasi pada awal catatan ini, -penulis melanjutkan- bahwa esensi sebenarnya menjadi ASN adalah Allah telah percaya, bahwa yang bersangkutan telah siap mengemban tugas untuk negara. Dengan disandangnya status ini, semoga menjadikan dirinya lebih ikhlas, lebih serius, lebih baik, dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan setiap peran baik.

Maka, apakah rasa syukur, rasa bangga, dan bahagia, ketika awal mendapatkan status tersebut harus dikesampingkan dengan langsung 'by-pass' mengambil esensinya? Yang jelas, hal-hal tersebut adalah keniscayaan. Hal ini merupakan bagian dari proses, sebagaimana intinya orang berproses mendapatkan nikmat. 

Imam Al Ghazali pernah menyampaikan, lima macam nikmat menuju kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan akhirat/ ukhrawi. Namun hal ini tentu diawali dengan mendapatkan kenikmatan-kenikmatan sebelumnya sehingga dapat sampai kesana. Dimulai dari kenikmatan taufik, dimana orang mampu merasa bahwa dirinya selalu diberikan petunjuk oleh Tuhannya. Lalu orang mendapatkan kenikmatan eksternal berupa harta, perkawinan/ keluarga, dan rasa dihormati. Selanjutnya orang merasakan kenikmatan jasmani berupa kesehatan, kekuatan fisik, cantik/ tampan, dan panjangnya usia. Setelah orang merasakan kenikmatan tersebut baru ia menuju pada kenikmatan jiwa/ nafsiyah. Pada fase tersebut orang menyempurnakan akalnya dengan ilmu, bersikap taat pada agama, bersikap tegas dan berani, dan menegakkan keadilan di lingkungannya. Maka kenikmatan ini tidak sempurna jika kenikmatan jasmani belum terpenuhi sebelumnya. Setelah mendapatkan dan merasakan semua kenikmatan tadi, orang baru dapat merasakan kenikmatan ukhrawi. Ini adalah tangga, fase-fase, episode yang dilalui oleh manusia.

Maka simpelnya, ketika seseorang dulunya adalah orang yang 'urakan', jauh dari pengamalan nilai agama, 'mburu nepsu' kata orang Jawa, cuek dengan perkara-perkara akhirat, maka persaat tertentu ketika usianya bertambah, ketika anak-anaknya mulai remaja, ia mulai menemukan tugas pokok sebenarnya. Nalurinya menuntun ke arah kebaikan-kebaikan. Ia kini semakin rajin sembahyang, rajin menghadiri majelis taklim, senang dengan kegiatan-kegiatan sosial, bahkan status medsosnya pun semakin bijak. Ini karena ia telah merasakan kenikmatan-kenikmatan pengantar sebelumnya, sehingga kini ia tiba pada suatu masa, dimana esensi hidupnya adalah menuju Rabb-nya.

Penulis kerap pula mendapatkan cerita dari simbah-simbah sepuh yang berkata, bahwa seiring perjalanan rumah tangga, status istri atau suami adalah sebagai teman hidup, bukan lagi obyek mesra sebagaimana halnya ketika pacaran atau manten anyar. Cinta adalah pengantar menuju episode tanggung jawab keluarga. Yang kelak ketika orang berhasil menjalani tanggung jawab tersebut, surga adalah balasannya. 

ASN adalah identitas, bahwa seseorang benar-benar perlu amanah dalam menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya. Ia memiliki porsi lebih besar dalam hal tanggung jawab atas kebaikan negaranya. Ia bertanggungjawab atas kepercayaan dan kemaslahatan sesama dalam ruang lingkup tugasnya. Dengan demikian, adalah suatu prestasi jika ia mampu memproduksi kebaikan-kebaikan setelah ASN menjadi status dalam profesinya. Alhamdulillah.


Sumber Gambar: http://ciget[dot]info

You May Also Like

1 komentar