MEMAKNAI HIDAYAH

by - Juni 25, 2016


Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala, atas limpahan karunia dan kasih sayang-Nya kepada kita. Sholawat dan salam tercurah kepada Rasulullah, Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.


Ramadhan demi Ramadhan telah kita lalui bersama, dengan serangkaian kegiatan yang tujuannya meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Banyak ilmu agama yang kita pelajari, banyak kajian-kajian yang kita simak di televisi, kultum-kultum di masjid, dan bahkan banyak sekali broadcast message baik itu melalui BBM, WhatsApp dan sebagainya yang antri untuk kita baca. 


Penulis dan pembaca sekalian, baik di rumah maupun di sekolah barangkali mendapatkan tugas dari panitia kegiatan Ramadhan untuk memberikan ceramah. Sehingga yang biasanya jarang membaca ilmu agama, maka dengan momen ini kita sebisa mungkin menjalaninya. Itulah mengapa bulan ini disebut juga bulan pendidikan. Yang ingin penulis sampaikan adalah, dengan begitu banyaknya input ilmu, kesempatan beramal dan sebagainya di bulan Ramadhan ini, adakah manfaat secara langsung kepada diri kita?. Jika kita menurut hukum keseimbangan, tentunya semakin banyak ilmu yang kita terima, yang kita miliki dan yang kita bagi kepada orang lain, maka semakin banyak pula kebaikan-kebaikan dan manfaat pada diri kita. Namun agaknya, itu belum sepenuhnya demikian, pun pada penulis sendiri. Lalu, sebenarnya faktor apa yang perlu diperhatikan? Setelah dengan beberapa kali pemikiran dan beberapa saat perenungan, penulis menyimpulkan bahwa faktor tersebut bernama HIDAYAH.


Hidayah merupakan petunjuk dari Allah Subhanahu Wata'ala, sehingga dengan petunjuk tersebut manusia dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Hidayah ini tidak kita cari, karena memang tidak hilang, akan tetapi hidayah ini senantiasa kita minta dari Allah. Ya, kita minta dalam setiap doa kita, dalam setiap ibadah shalat kita. Oleh karena itu dalam shalat kita diwajibkan membaca surat Al Fatihah, yang memang surat ini merupakan salah satu rukun shalat, yang dimana salah satu ayatnya berarti “Ya Rabb kami, tunjukilah kami jalan yang lurus”, itulah doa kita di dalam shalat. Ibnu Taimiyah, pernah berkata bahwa seorang hamba itu memiliki rasa butuh yang teramat sangat terhadap doa ini. Karena sesungguhnya, tidak ada keselamatan dari siksa (neraka) dan pencapaian kebahagiaan (yang abadi di surga) kecuali dengan hidayah (dari Allah ta’ala) ini. Dengan demikian, setiap orang, siapapun itu, senantiasa membutuhkannya.


Penulis butuh hidayah, pembaca butuh hidayah, kepala sekolah, guru, siswa, ustadz, ulama, menteri, presiden, semuanya butuh hidayah. Karena dengan hidayah itulah ilmu yang kita miliki menjadi bermanfaat. Dengan hidayah tersebut kita dapat memilih untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah kita dapatkan. Dan ingat, hidayah ini adalah sepenuhnya hak Allah Subhanahu Wata'ala, Rabb kita semua. Hak Allah untuk memberikannya kepada siapapun yang Dia kehendaki. Ranah kita adalah memohon dan memintanya. Jadi, seberapa banyak ilmu yang tersimpan di memori, seberapa tinggi kesadaran pada diri, hidayah selalu kita butuhkan sehingga kita dapat mengamalkan ilmu yang telah kita miliki tersebut. Sehingga, dari sekian banyak ceramah-ceramah yang kita simak, sekian banyak broadcast message ilmu yang kita baca, sekian banyak pengajian-pengajian, pelatihan-pelatihan, workshop-workshop yang kita ikuti, oleh ustadz, trainer, dari yang lokal sampai skala nasional pun, tentu akan sulit kita amalkan kecuali dibarengi dengan selalu meminta hidayah dari Allah Subhanahu Wata'ala.


Sehingga pada akhirnya, dengan kita memahami tentang hidayah ini, manfaat yang dapat kita petik adalah rasa butuh kita kepada Allah Subhanahu Wata'ala semakin besar, selanjutnya kita juga diharapkan tidak akan terlalu kecewa, bilamana kita menyampaikan sesuatu kepada oranglain, orang tersebut tidak atau belum mengindahkannya, sekalipun sesuatu itu amat sangat bermanfaat. Seorang suami memberi nasihat pada anak dan isteri, jika ternyata anak dan isteri belum mampu sepenuhnya menerima, sang suami jangan terlalu kecewa. Seorang guru mengajarkan pelajaran kepada muridnya, jika ternyata murid belum bisa, maka guru tidak lantas merana. Seorang ustadz, kyai, aktivis dakwah, yang menyampaikan ilmu agama kepada jamaah, tidak lantas kecewa jika jamaah belum berubah lebih baik atas ilmu yang telah disampaikannya. Karena hakikatnya, bukan kalian yang berhak memberikan hidayah kepada orang lain, akan tetapi hanyalah Allah Allah Subhanahu Wata'ala.


Teringat suatu kisah sejarah, bahkan paman Nabi pun, Abu Tholib, yang secara kronologi hidup berdampingan dengan Nabi, bahkan melindungi Nabi, beliau tidak mampu meneguk manisnya Islam. Kan’an, putra Nabi Nuh, beserta ibunya, yang tiada lain adalah isteri Nabi Nuh, lebih memilih hanyut dalam lautan bah. Namun Asiyah, isteri raja bengis Fir’aun namanya, justeru teguh mempertahankan keimanannya kepada Tuhan Yang Esa, Allah Subhanahu Wata'ala, tidak lain adalah karena selalu memohon hidayah dari Allah Subhanahu Wata'ala. Penulis dalam hal ini bukan bermaksud membanding-bandingkan umat terdahulu, melainkan memberi penekanan akan pentingnya makna dari hidayah ini.


Akhir pena, semoga di 10 hari terakhir Ramadhan tahun ini, kita tak henti-hentinya memohon hidayah dari Allah, dan semoga Allah Subhanahu Wata'ala selalu memberikan hidayah kepada kita semua, sekarang dan selanjutnya. Aamiin.

Salam,
Agus Tri Yuniawan

Sumber Gambar: psicopedagogia-kaposkly[dot]com

You May Also Like

0 komentar