Catatan Perjalanan Singkat

Jumat, 19 April 2019

Cinta Yang Murni

Setiap hal, apapun itu, memerlukan serangkaian proses sehingga didapatkan hasil yang diinginkan. Nasi yang tersaji hangat di meja, dengan uapnya yang masih mengepul ketika tutup magic com dibuka, itu pun melalui serangkaian proses. Mulai dari menanam, menyiangi rumput dan gulma, sampai dengan memanen, merontokkan padi, menjemur gabah, memisahkan gabah baik dengan gabah kosong, yang mana proses ini ibu-ibu kadang menggunakan tampah dan kipas angin, lalu gabah yang benar-benar berisi dimasukkan dalam karung yang kemudian digiling, setelah menjadi beras masih ditapeni, dipisahkan beras utuh dengan menir (beras yang patah), dipisahkan beras dengan las-nya (las= gabah yang tidak tergiling sehingga kulitnya masih ada), dibersihkan sekiranya ada kerikil yang ikut serta, setelah itu masih dipususi (dicuci) sebelum akhirnya dimasak, hingga akhirnya menjadi nasi yang kita santap sehari-hari.

Barangkali tidak hanya nasi, bensin yang kita gunakan sehari-hari, emas, dan masih banyak lainnya, itu pun mengalami proses sehingga didapatkan material terbaik yang dapat kita ambil manfaatnya. 

Masih ada kaitannya dengan substansi tulisan sebelumnya yang berjudul Meraih Status ASN adalah Prestasi?,  dalam kehidupan sosial-rumahtangga juga mengalami proses yang demikian. Ketika dua insan sedang jatuh cinta, semua yang nampak adalah kebaikan-kebaikannya saja. Ada yang diawali suka  karena rupa (cantik-tampan-gagah), ada yang karena kepintarannya, ada yang karena hartanya, karena kecakapannya, dll. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menemukan sisi-sisi lain dalam kehidupan. Tantangan demi tantangan mulai berdatangan menguji keteguhan mereka. Hingga pada akhirnya takdir yang berbicara, apakah mereka tetap bersama ataukah sebaliknya. 

Iman, adalah keteguhan dalam hati bahwa tidak ada zat yang benar-benar wujud kecuali hanya Allah saja. Untuk menumbuhkan hal tersebut tidak dapat serta merta ada. Prosesnya memerlukan waktu dan pengalaman-pengalaman yang terjadi semasa hidup. Untuk menjadi mahasiswa saja perlu menjalani tes masuk, untuk menjadi pegawai perlu melalui seleksi, untuk menjadi pejabat pun perlu serangkaian fit and proper test. Apalagi dengan hal yang sangat penting yang berupa iman. Maka pertanyaan retoris pun terlontar untuk kita semua, "apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi? 

Ujian-ujian yang ada, sejatinya merupakan proses, yang endingnya adalah cinta yang murni. Mau 'polah' sebebas apapun akhirnya juga akan kembali. Mau mengunggulkan apapun toh akhirnya juga bersama lagi. Mau kemayu, mbagusi, nggleleng seperti apapun itu nanti juga ada batasnya, dan kamu tetap manusia biasa dengan segala sifat kemanusiaanmu. Maka disaat itulah kamu akan menerima sesamamu, dan kamu akan diterima sebagaimana dirimu sebagai manusia, sesuatu yang murni, tanpa syarat, sebagai sesama hamba Allah Yang Maha Kasih.

Selamat hari Jumat, Lur. Berkah untuk kita semua.

Salam,
Agus Tri Yuniawan
Sumber gambar: SS Youtube
Read More

Selasa, 16 April 2019

Sampai Jumpa di TPS

Alhamdulillah, insyaa Allah besok dilaksanakan pemilu 2019 di negara kita tercinta ini. Hampir semua calon wakil rakyat baik DPRD Kab/ Kota, DPRD Provinsi, DPR RI, DPD RI, adalah orang Islam. Apalagi capres dan cawapres kita, semua adalah muslim, beriman, dan mereka dekat dengan ulama. 

Dua hari ini adalah masa tenang kampanya. Berkah sebagai orang beriman adalah ketika berikhtiar mendapatkan ketenangan yaitu dengan umroh, dzikir, istighosah, dll, tidak dengan datang ke dukun, miras, apalagi narkoba. 

dan,

Muhammadiyah tidak bisa menjaga Islam sendirian, NU tidak bisa menjaga Islam sendirian, aku tidak bisa sendirian, begitu juga kamu. Tapi yang jelas, Islam akan selalu dijaga Allah hingga hari kiamat.

Maka, mari bersyukur kita ditakdirkan sebagai orang Islam. Mari bersyukur kita ditakdirkan menjadi orang yang beriman. Yang menggantungkan agama dan negeri ini hanya kepada Allah subhanahu wata'ala, dan kita berkontribusi di dalamnya melalui pesta demokrasi esok pagi. Dan yang namanya pesta, yuk bergembira. Sampai jumpa di TPS yaa, Lur.

Sumber Gambar: jawapos[dot]com
Read More

Selasa, 09 April 2019

Pembenci dan Pecinta

Sahabatku, pembenci dan pecinta selalu ada dalam kehidupan. Status ini bisa disandang oleh siapapun termasuk diri kita. Apa sih urgensinya sehingga penulis tergerak untuk menyoal tentang hal ini?

Sahabatku, misalkan ada dua orang, yang satu adalah pembenci dan lainnya adalah pecinta, tentulah kita tidak bisa melihatnya secara fisik, karena perbedaan terletak didalam hati mereka, dan ini tidak kasat mata. Pun tak dapat dipungkiri bahwa lahirnya tindakan-tindakan lahiriyah itu pun bermula dari hati. Itulah mengapa sepertiga urusan agama mengatur tentang sesuatu yang tidak nampak ini.

Baik, mari kita ingat kembali kisah tentang seekor katak dan cicak dalam sejarah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam. Ketika beliau dibakar oleh Namrud, seekor katak demikian inginnya menolong beliau. Lalu singkat cerita dia mengisap air dari sungai, menyimpannya dalam tembolok, lalu menyemburkannya kedalam api yang demikian membara. Ia lakukan itu berulang-ulang sampai kelelahan, dengan harapan agar kekasih Allah ini selamat dari kobaran api. Namun di sisi lain, cicak justru menghembus-hembuskan udara seperti orang yang meniup tungku masak.

Sahabatku, yang dilakukan katak tersebut adalah sesuatu yang sangat kecil. Meski ribuan katak yang datang dan melakukan hal yang sama pun, sama sekali tak akan berarti, alih-alih memadamkan api. Pun demikian halnya dengan yang dilakukan cicak. Mau ditiup sekuat apapun, meski didatangkan pula jutaan cicak tetap tidak akan membuat api semakin berkobar, karena api sudah sangat besar. Namun yang menarik adalah status yang disandang oleh masing-masing mereka. Katak menyandang status sebagai pecinta dan cicak adalah si pembenci. Hal inilah yang membuat Allah memberi apresiasi kepada si katak.

Sahabatku, dalam kehidupan ini pun demikian. Ketika kita diberikan kekuatan sehingga mampu melaksanakan shalat misalnya, meski belum bisa sempurna, masih ingat ini, masih ingat itu, kadang-kadang lupa, bacaan belum hafal, gerakan masih ragu apa sudah benar atau belum, tetapi kita tetap melaksanakannya, itu masih lebih baik daripada tidak mengerjakan sama sekali.

Kita memberi pada pengemis atau anak yatim meski cuma dua ribu atau lima ribu misalnya, itu sudah lebih baik daripada mengusir. Karena dengan memberi dan tidak mengusir itu kita sudah terhindar dari status pendusta agama.

Maka inilah urgensinya hal tersebut, yang dengan itu pula Allah sangat mengapresiasi isi hati kita. Kita beribadah 60 tahun, 70 tahun, dsb, tetapi Allah mengganjar kita dengan surga yang abadi. Kalau orang mengandalkan amal saja, tentu surga hanya bisa dirasakan setara dengan lamanya orang itu beribadah. Tetapi karena isi hati seorang mukmin ini, yang didalamnya berisi "andaikan aku hidup selamanya, aku tetap beribadah hanya kepada Allah", inilah yang dihargai oleh Allah kepadanya. Maka Nabi berkata, "innamal a'maalu binniyat", karena niat dalam hati itu sangat diperhitungkan.

Akhirnya saudaraku, meski kita belum bisa shalat dengan baik, meski belum bisa infak dengan baik, tapi kita tetap shalat. Meski masih berat lah, masih bolong-bolong lah, itu tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Sekalipun memang kita tetap terus berupaya menyempurnakannya. Maka ibarat kata, meski jalan terseok-seok lah, kaki terseret-seret lah, bahkan ngesot sekali pun, kita statusnya terus bergerak menuju Allah. Dan Allah Maha memperhitungkan segala yang ada, termasuk isi hati kita. Semoga kita menyandang status sebagai pecinta, bukan sebaliknya. Alhamdulillah.

Salam,
Agus Tri Yuniawan
Read More

Senin, 01 April 2019

Kumpulan Status Whatsapp

Bismillah, Alhamdulillah.
Persaat tertentu kadang ada lintasan pikiran yang teraktualisasi menjadi status whatsapp. Begitu status terposting, setelah 24 jam postingan tersebut auto-terhapus. Maka terkadang orang menjadi lupa pernah ngomong apa, pernah nulis apa, karena memang ada sesuatu yang dilakukan dengan kesadaran dan ada juga yang karena refleks. 

Berikut beberapa status WA yang penulis posting secara sadar, beberapa melalui tahap konsep, tapi ada juga yang spontan dan tidak terdokumentasikan, entah penulis ngomong apa, "mak cul" laksana anak panah terlepas dari busurnya, dan akhirnya lupa. haha

Apa gunanya posting seperti ini di publikasikan?

Gunanya untuk mengajak. Ayolah, sama-sama menulis, sama-sama bikin status, yuk sebarkan kebaikan-kebaikan, informasi-informasi, harapan-harapan, atau hal-hal lucu yang membuat kita tertawa, menertawai diri kita sendiri. Sehingga kita fokus, pada perbaikan diri sendiri, perbaikan umat, dan NKRI.












Read More

Jumat, 29 Maret 2019

Meraih Status ASN Adalah Prestasi?

Seiring bertambahnya usia, banyak orang yang lebih mementingkan esensi daripada sensasi. Ketika dulu muda dan remaja, suka dan bangga dengan Ninja, kini ketika lebih berumur bahkan Legenda atau Vespa saja sudah cukup baginya. Ketika dulu suka dengan pizza, burger, dan chicken pasta, ia pun bahagia meng-capture dan memposting di sosial media, tetapi kini cukup dengan sego liwet, sayur asem, lalapan, dan buah yang ada, yang penting sehat dan berguna. Ketika dulu pula, bangga dengan gebyar dekorasi, wedding organizer, fotografer kelas elite, perburuan spot indah untuk foto pre-wedding, tetapi kini ketika kulit mulai keriput, rambut mulai berkurang hitamnya, dan lebih dalam dalam perenungan, ternyata keluarga yang hangat, akrab, sehat, dan bersahaja, itu jauh lebih ia butuhkan daripada sekedar foto-foto kemesraan yang di share, like, and tag dalam dunia maya. 

Aparatur Sipil Negara (ASN) atau yang biasa dikenal orang sebagai PNS adalah profesi yang memiliki prestis bagi kebanyakan mereka. Hal tersebut pula mengangkat status sosial dalam masyarakat, terutama masyarakat di kampung dan desa. Meski memang, perjuangan untuk mendapatkan status ASN tidaklah mudah. Perjuangan belajar, mengabdi di instansi sekian waktu, menjalani beberapa test, sampai dengan ujian kesabaran ketika menunggu hasil pun dijalaninya. Dan yang paling pokok tentunya adalah takdir Allah Subhanahu Wa ta'ala. Dengan demikian, ketika berhasil mendapatkannya, biasanya rasa syukur yang tak terkira terpancar dari mereka.

Ya, kini status ASN pun didapatkannya. Namun, apakah ini prestasi final? Tentu saja tidak. Maka, sebagaimana ilustrasi pada awal catatan ini, -penulis melanjutkan- bahwa esensi sebenarnya menjadi ASN adalah Allah telah percaya, bahwa yang bersangkutan telah siap mengemban tugas untuk negara. Dengan disandangnya status ini, semoga menjadikan dirinya lebih ikhlas, lebih serius, lebih baik, dan lebih berhati-hati dalam melaksanakan setiap peran baik.

Maka, apakah rasa syukur, rasa bangga, dan bahagia, ketika awal mendapatkan status tersebut harus dikesampingkan dengan langsung 'by-pass' mengambil esensinya? Yang jelas, hal-hal tersebut adalah keniscayaan. Hal ini merupakan bagian dari proses, sebagaimana intinya orang berproses mendapatkan nikmat. 

Imam Al Ghazali pernah menyampaikan, lima macam nikmat menuju kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan akhirat/ ukhrawi. Namun hal ini tentu diawali dengan mendapatkan kenikmatan-kenikmatan sebelumnya sehingga dapat sampai kesana. Dimulai dari kenikmatan taufik, dimana orang mampu merasa bahwa dirinya selalu diberikan petunjuk oleh Tuhannya. Lalu orang mendapatkan kenikmatan eksternal berupa harta, perkawinan/ keluarga, dan rasa dihormati. Selanjutnya orang merasakan kenikmatan jasmani berupa kesehatan, kekuatan fisik, cantik/ tampan, dan panjangnya usia. Setelah orang merasakan kenikmatan tersebut baru ia menuju pada kenikmatan jiwa/ nafsiyah. Pada fase tersebut orang menyempurnakan akalnya dengan ilmu, bersikap taat pada agama, bersikap tegas dan berani, dan menegakkan keadilan di lingkungannya. Maka kenikmatan ini tidak sempurna jika kenikmatan jasmani belum terpenuhi sebelumnya. Setelah mendapatkan dan merasakan semua kenikmatan tadi, orang baru dapat merasakan kenikmatan ukhrawi. Ini adalah tangga, fase-fase, episode yang dilalui oleh manusia.

Maka simpelnya, ketika seseorang dulunya adalah orang yang 'urakan', jauh dari pengamalan nilai agama, 'mburu nepsu' kata orang Jawa, cuek dengan perkara-perkara akhirat, maka persaat tertentu ketika usianya bertambah, ketika anak-anaknya mulai remaja, ia mulai menemukan tugas pokok sebenarnya. Nalurinya menuntun ke arah kebaikan-kebaikan. Ia kini semakin rajin sembahyang, rajin menghadiri majelis taklim, senang dengan kegiatan-kegiatan sosial, bahkan status medsosnya pun semakin bijak. Ini karena ia telah merasakan kenikmatan-kenikmatan pengantar sebelumnya, sehingga kini ia tiba pada suatu masa, dimana esensi hidupnya adalah menuju Rabb-nya.

Penulis kerap pula mendapatkan cerita dari simbah-simbah sepuh yang berkata, bahwa seiring perjalanan rumah tangga, status istri atau suami adalah sebagai teman hidup, bukan lagi obyek mesra sebagaimana halnya ketika pacaran atau manten anyar. Cinta adalah pengantar menuju episode tanggung jawab keluarga. Yang kelak ketika orang berhasil menjalani tanggung jawab tersebut, surga adalah balasannya. 

ASN adalah identitas, bahwa seseorang benar-benar perlu amanah dalam menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya. Ia memiliki porsi lebih besar dalam hal tanggung jawab atas kebaikan negaranya. Ia bertanggungjawab atas kepercayaan dan kemaslahatan sesama dalam ruang lingkup tugasnya. Dengan demikian, adalah suatu prestasi jika ia mampu memproduksi kebaikan-kebaikan setelah ASN menjadi status dalam profesinya. Alhamdulillah.


Sumber Gambar: http://ciget[dot]info
Read More

Selasa, 29 Januari 2019

Penghancur Kenikmatan


Kemarin penulis ngobrol sama teman. Dia bercerita bahwa 2006 silam dia berencana piknik ke Bali bersama teman-teman sekolah. Namanya anak sekolah, momen piknik adalah hal yang sangat dinanti. Akhirnya, tinggal sehari waktu itu tiba. Jadwal berkumpul adalah esok pukul 08.00 di halaman sekolah. Menjelang tidur malam hari bayangan piknik pun sudah di depan mata. "Ahh, besok piknik, ke Bali", demikian pikirnya sambil tersenyum.

Esok harinya, adzan subuh pun berkumandang. Ia bergegas mandi, shalat subuh, dan berpakaian rapi. Tak lupa bekal yang sudah ia siapkan ia cek satu persatu. Pukul 05.30, ia merasakan lantai bergetar. Tambah detik tambah kuat. "Gempaaa!", teriaknya sambil berlari keluar. Ayah, ibu, dan adiknya pun berhamburan keluar bersama para tetangga. 

Goncangan berlanjut hingga akhirnya rumah-rumah roboh. Puing-puing berserakan di tanah. Belum lagi teriakan histeris para tetangga yang menyadari masih ada anggota keluarga yang tertinggal di dalam rumah.

"Ahhh," nafas menghela disela rintihan dan istighfar. Suka cita menjelang piknik sirna seketika. Bayangan pantai Sanur, pantai Kuta, dan Pasar Tradisional Ubud lenyap diantara tumpukan material rumah dan tangis tetangga.

Guys, inilah pengalaman yang ada. Point yang hendak disampaikan apa?

Realita kini menunjukkan bahwa kompetisi-kompetisi intelektual telah bergeser menjadi debat kusir yang mencaci. Berita-berita miring menjadi konsumsi sehari-hari. Hoax dan bully terlalu banyak hingga tak terhitung lagi. Saking banyaknya sampai sulit membedakan mana fakta mana dusta. Kabar nyata dikatakan rekayasa, berita tak berguna diangkat dan disebar-sebarkan melalui grup-grup WA.

Uniknya, banyak dari kita merasa "nikmat" menjalaninya. Entah sadar ataupun alpa masih ada saja yang ikut serta. 

Mereka, pembuat konten-konten yang tiada sedikitpun darinya yang meningkatkan iman ataupun cinta sesama, terus saja "berkarya". Alih-alih menambah pintar, justru kemunduran yang menjelma. Sekali lagi, mereka pun juga "menikmati" aktifitasnya.

Guys, mungkin persaat tertentu momen amnesia bisa menghinggapi siapa saja. Sehingga terlupa, bahwa "teguran-teguran" mampu melenyapkan rasa lezat yang ada. 

Nabi pernah mengabarkan, kelak di lapangan mahsyar, semuanya dikumpulkan dalam keadaan tanpa busana. Sahabat bertanya, apakah mereka tidak saling melihat aurat satu sama lain? Beliau menjawab, sungguh tidak sempat, sama sekali tidak peduli, situasi saat itu amat mencekam, hingga tiap-tiap orang amat sangat mengkhawatirkan dirinya saja. 

Guys, itu benar adanya. Maka terhadap situasi yang sedang ada kini, kita perlu sedikit bijak menyikapinya. Kini kita dihadapkan pada pertengkaran-pertengkaran, dan kita dibuat nikmat menjalaninya. Rasa nikmat itu tidak menambah perbaikan pada diri, justru membuang waktu produktif, dan tidak menambah kecintaan dan ketenangan hati.

Mari tingkatkan cinta sesama, kita raih nikmat-nikmat yang tidak dapat hancur oleh situasi yang ada, dan justru semakin meningkat hingga kita berjumpa dengan-Nya.

Salam,
Agus Tri Yuniawan 

Sumber Gambar: www[dot]aljanh[dot]net
Read More

Selasa, 22 Januari 2019

Orang Baik Sering Tersakiti?

Beberapa kesempatan yang lalu, penulis mendapatkan broadcast video whatsapp yang diperankan oleh beberapa anak kecil yang menjelaskan tentang sebab orang baik sering tersakiti, sering tertipu, sering meneteskan air mata, dll. Tulisan ini dibuat untuk mengurai konten tersebut sehingga diperoleh sudut pandang yang semakin luas.

Pengalaman kehidupan memang membuktikan ada beberapa orang yang dianggap baik tetapi justru sering dimanfaatkan orang lain untuk keuntungan pribadi. Hal inilah yang membuat orang menarik kesimpulan bahwa orang baik itu tersakiti, sering ditipu, sedih, dan hal kurang baik lainnya. Namun demikian, jika kita melihat lebih jauh pada rentang waktu dari momen tersakiti sampai beberapa masa sesudahnya, ternyata rasa sakit, tumpahan air mata, dan semua beban tersebut bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih indah. Orang tersebut menjadi lebih kuat, lebih bijaksana, lebih smart, lebih sejahtera, dan lain sebagainya.

Hal tersebut membuktikan bahwa setiap hal yang dialami dalam setiap episode kehidupan merupakan "training" dari Sang Pencipta. Jika setiap kesakitan, dan setiap hal yang dianggap sebagai suatu "ketidakadilan" tersebut dipahami sebagai akibat menjadi orang baik, maka selanjutnya sangat mungkin tidak ada orang yang mau menjadi orang baik. Dengan demikian, segala kesakitan, pengalaman tertipu, seringnya mata menangis, itu adalah rahmat dari Allah Subhanahu Wata'ala. Karena kita juga yakin, tidak hanya orang baik, orang yang tidak baik pun juga bisa tersakiti, juga merasakan ditipu orang lain, pun juga merasakan menangis, dllsb. Maka menjadi orang baik ataupun tidak baik adalah suatu pilihan.

Akhirnya, yang perlu kita lakukan adalah bersyukur sebanyak-banyaknya. Orang yang baik cenderung dipertemukan dengan yang baik juga. Dan orang yang tidak baik pun cenderung bertemu orang yang serupa. Status orang baik dan tidak baik itu pun pada hakikatnya bukan hak kita untuk memberi label. Manusia hanya mengira-ira, hingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa yang baik adalah menurut ukuran Allah subahanahu wata'ala. Inna akromakum 'indallahi atqakum, demikian bahasa firman-Nya.

Sudah, nggeh. Bisa disimpulkan sendiri hasil pembahasan kali ini. Dan yang paling terakhir tulisan ini, mengajak kita semua mengoneksikan segala hal kebaikan kepada Allah Yang Mahabaik. Kita dapat berbuat baik bukan karena semata kemampuan kita, tetapi karena hidayah dari-Nya. Dengan demikian, menjadikan kita semua tidak 'ge-er', tidak besar kepala, dan tidak ke-'pede'-an bahwa kita adalah orang yang benar-benar baik. Kita hanyalah orang yang terus berusaha, terus berproses menjadi orang yang baik, dan dengan itu pula kita menebarkan kebaikan-kebaikan disekitar kita, dari lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Alhamdulillah.

Salam,
Agus Tri Yuniawan

Sumber gambar: twitter

Read More

© Catatan Perjalanan Singkat, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena